Puisi Terlarang Sekar Wangi Indonesia Aku tidak jadi menulis puisi, Sebagai ganti, kusulap menjadi buih-buih intuisi yang terkurung di tempurung; kepala Sebab isi kepalaku takkan tembus pandang Dijaga oleh besi-besi daging, dijubahi Tuhan Kepalaku takkan dipenjara Namun tanganku mungkin dipenjara Karena sumpah serapah yang kutulis dengan pena pudar Pada kalangan atas yang terbahak (dan berdahak) Wahai, kau mungkin tak luput! Namun kau keriput! "Dosa, dosa, dosa, dosa..." Segerombol anak kecil menertawai babi yang mengunyah babi Dan Aku, yang tidak jadi menulis puisi Kau baru saja diberi indra, untuk membaca isi kepalaku.
Adam, Hawa dan Dua Ekor Kucing Puisi dialog karya Sekar Wangi Indonesia Sebuah percakapan di meja makan. Empat potong mata yang saling beradu rayu. "Sayang, sebenarnya apa makna hidup ini jika akhirnya kita kembali ke tanah?" "Maaf, Aku tambahkan. Tanah, dan Tuhan." Sergah Adam. "Sayang, bagaimana jika sebenarnya Tuhan itu tidak ada?" Adam dan hawa bersilat lidah. Hingga muncul dua ekor kucing, mengintai di jendela. "Sayang, bagaimana jika hidup manusia itu sejatinya hanya seperti kucing?" "Hidup, mencari makan (atau mencuri), kawin lari, mati, lalu tidak masuk neraka ataupun surga." Sejenak sesaat, mulut dan pikiran Adam termangu bisu. "Adam, kita tidak tahu aturan hidup yang sebenarnya, bagaimana jika aslinya kita sesederhana mereka?" Dua ekor kucing pergi setelah lama bermesraan di jendela. Manusia tidak akan berhenti bertanya sampai mereka menyaksikan kenyataan, itulah mengapa orang yang mati tidak bisa menjawab .