Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi Terlarang

Puisi Terlarang Sekar Wangi Indonesia Aku tidak jadi menulis puisi, Sebagai ganti, kusulap menjadi buih-buih intuisi yang terkurung di tempurung; kepala Sebab isi kepalaku takkan tembus pandang Dijaga oleh besi-besi daging, dijubahi Tuhan Kepalaku takkan dipenjara Namun tanganku mungkin dipenjara Karena sumpah serapah yang kutulis dengan pena pudar Pada kalangan atas yang terbahak (dan berdahak) Wahai, kau mungkin tak luput! Namun kau keriput! "Dosa, dosa, dosa, dosa..." Segerombol anak kecil menertawai babi yang mengunyah babi Dan Aku, yang tidak jadi menulis puisi Kau baru saja diberi indra, untuk membaca isi kepalaku.
Postingan terbaru

Adam, Hawa dan Dua Ekor Kucing

Adam, Hawa dan Dua Ekor Kucing Puisi dialog karya Sekar Wangi Indonesia Sebuah percakapan di meja makan. Empat potong mata yang saling beradu rayu. "Sayang, sebenarnya apa makna hidup ini jika akhirnya kita kembali ke tanah?" "Maaf, Aku tambahkan. Tanah, dan Tuhan." Sergah Adam. "Sayang, bagaimana jika sebenarnya Tuhan itu tidak ada?" Adam dan hawa bersilat lidah. Hingga muncul dua ekor kucing, mengintai di jendela. "Sayang, bagaimana jika hidup manusia itu sejatinya hanya seperti kucing?" "Hidup, mencari makan (atau mencuri), kawin lari, mati, lalu tidak masuk neraka ataupun surga." Sejenak sesaat, mulut dan pikiran Adam termangu bisu. "Adam, kita tidak tahu aturan hidup yang sebenarnya, bagaimana jika aslinya kita sesederhana mereka?" Dua ekor kucing pergi setelah lama bermesraan di jendela. Manusia tidak akan berhenti bertanya sampai mereka menyaksikan kenyataan, itulah mengapa orang yang mati tidak bisa menjawab .

KIAMAT (Cerita pendek)

  “KIAMAT” Written by Sekar Wangi Indonesia   Ada sekat tebal di antara ruang puisi dan nyaring televisi. Seorang perempuan sedang fokus menulis puisi, sedangkan laki-laki disebelahnya sibuk menatap televisi. Berita terkait bobroknya negara, kasus korupsi, kebijakan yang dianggap “nyeleneh” saling berebutan untuk muncul. Hal itu menggelitik telinga Zafran, bahkan membuat tangannya berkali-kali mengepal seakan sedang menonton pertandingan bola. “Lihat, Kar. Kalau negara sudah enggak takut meliput beginian, artinya negara kita memang sudah kacau! Dan—lumrah!” Sekar tidak menggubris satupun ucapan Zafran, bahkan anak rambut yang menempel di dahinyapun tak dihirau. Jika sudah menulis puisi, baginya, hanya surga di sekelilingnya. Zafran menatap Sekar, sembari menyaringkan volume lewat remot. “Minggu depan, Gue ikut aksi.” Ujarnya pelan, melebur dalam suara televisi yang luar biasa nyaring. Sengaja. Karena Zafran tahu, jika sahabatnya itu dengar, maka jawabannya... “...

Takdir

Aku duduk di antara pasir dan sore, Menunggu laut mengecup ujung kakiku Lalu kutinggalkan dengan pamit yang manis, Karena jika belum tiba waktunya, maka laut hanya bisa menyentuhku Bukan menarikku ke da lamnya

Tersiratnya Surat Tak Tersirat

Sepucuk surat telah tiba Hanya di angan, bukan di tangan Kutulis di atas sanak rinduku Pada cinta yang tidak bertemu tinta Pada air yang menuntut api untuk hilang Mengapa perempuan ditakdirkan menerima nyali dan bukan bernyali? Sepucuk kertas tersangkut dikepala, tidak dikirim, pun tidak kusampaikan

Kumbang Lara

Arwahku ditiup kumbang, Sebab terlalu banyak lubang Sementara orang mengharapkan kembang Nafasku berjalan lamban Senyap sunyi nyaring di kepala Pakaianku hanya menutup badan Nyawaku sudah dingin Merongrong ingin pergi Apa yang menghentikanku? Jelas bukan baju, Tapi Ibu

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )