Denyut Kehidupan Angin sore memapah sepasang mataku ke setiap sudut kota Kulirik peluh seorang badut jalanan yang suah berpadu dengan larutan air mata Teguh tersenyum lamun raga tak lagi kokoh Teguh bersamba, mempersolek setiap jengkal metropolis Memikul denyutan harapan selaku tulang punggung keluarga Pula anak-anak yang sepatutnya giat menodong ilmu Jemari mereka mesti tersisip di antara ukulele Menatap sayu tingkap kedai pinggir kota Tabah merindukan racik masakan sang Ibunda Kini mereka hanya terduduk pilu di pagar stasiun yang semakin merapat Menyeret kaleng bekas yang nihil isinya Berjerih payah tuk tetap hidup di kecamuk pandemi ‘’Enak, ya... Jadi pejabat, diperlakukan seperti raja. Mereka mana lihat orang susah seperti kita,‘’ Lirih salah satu manusia perak yang tengah memandangi gedung-gedung tinggi para penguasa Terselip awan kelabu di antara mereka dan kesenyapan jalanan Tiada lagi aroma masakan dari kedai Tiada lagi hiruk-pikuk pedagang kaki lima Tiada pula recehan yan...
Aku adalah api yang tak pernah membutuhkan air. Tak padam dan tak surut, aku—tetaplah aku.