Gadis itu, Dia. ( Sudut Pandang Yang Berbeda) Sekar Wangi Indonesia Kulihatnya bertumpu pada sepi, Tangis dan Harapannya berserakan di tanah basah Rambutnya sudah tidak bisa diurai lagi, menggantung kumal di bahu Kutemukan gadis malang itu di sela binar cahaya yang memusuhinya “Disini sempit. Aku bosan,” Katanya seraya memeluk lututnya sendiri “Maka pergilah,” Kataku, sambil kupandang bola matanya yang kosong Gadis itu menertawai kata “pergi” seolah-olah Aku adalah komedian termuka Seolah kata itu fana dan baru saja kucipta Ada apa dengannya? Tangisnya kelabu dan berdebu, tertinggal di raut lesu Siluetnya melayang bebas di jauh sana Meninggalkan raga mungilnya yang tercekik sempit Telunjuknya terangkat, terpanah pada dunia luar yang hanya bisa menjanjikan Dan berkata pelan, “Buat apa aku hidup, jika setengahku mati...”
Aku adalah api yang tak pernah membutuhkan air. Tak padam dan tak surut, aku—tetaplah aku.