Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

KIAMAT (Cerita pendek)

  “KIAMAT” Written by Sekar Wangi Indonesia   Ada sekat tebal di antara ruang puisi dan nyaring televisi. Seorang perempuan sedang fokus menulis puisi, sedangkan laki-laki disebelahnya sibuk menatap televisi. Berita terkait bobroknya negara, kasus korupsi, kebijakan yang dianggap “nyeleneh” saling berebutan untuk muncul. Hal itu menggelitik telinga Zafran, bahkan membuat tangannya berkali-kali mengepal seakan sedang menonton pertandingan bola. “Lihat, Kar. Kalau negara sudah enggak takut meliput beginian, artinya negara kita memang sudah kacau! Dan—lumrah!” Sekar tidak menggubris satupun ucapan Zafran, bahkan anak rambut yang menempel di dahinyapun tak dihirau. Jika sudah menulis puisi, baginya, hanya surga di sekelilingnya. Zafran menatap Sekar, sembari menyaringkan volume lewat remot. “Minggu depan, Gue ikut aksi.” Ujarnya pelan, melebur dalam suara televisi yang luar biasa nyaring. Sengaja. Karena Zafran tahu, jika sahabatnya itu dengar, maka jawabannya... “...

Takdir

Aku duduk di antara pasir dan sore, Menunggu laut mengecup ujung kakiku Lalu kutinggalkan dengan pamit yang manis, Karena jika belum tiba waktunya, maka laut hanya bisa menyentuhku Bukan menarikku ke da lamnya

Tersiratnya Surat Tak Tersirat

Sepucuk surat telah tiba Hanya di angan, bukan di tangan Kutulis di atas sanak rinduku Pada cinta yang tidak bertemu tinta Pada air yang menuntut api untuk hilang Mengapa perempuan ditakdirkan menerima nyali dan bukan bernyali? Sepucuk kertas tersangkut dikepala, tidak dikirim, pun tidak kusampaikan

Kumbang Lara

Arwahku ditiup kumbang, Sebab terlalu banyak lubang Sementara orang mengharapkan kembang Nafasku berjalan lamban Senyap sunyi nyaring di kepala Pakaianku hanya menutup badan Nyawaku sudah dingin Merongrong ingin pergi Apa yang menghentikanku? Jelas bukan baju, Tapi Ibu