“KIAMAT” Written by Sekar Wangi Indonesia Ada sekat tebal di antara ruang puisi dan nyaring televisi. Seorang perempuan sedang fokus menulis puisi, sedangkan laki-laki disebelahnya sibuk menatap televisi. Berita terkait bobroknya negara, kasus korupsi, kebijakan yang dianggap “nyeleneh” saling berebutan untuk muncul. Hal itu menggelitik telinga Zafran, bahkan membuat tangannya berkali-kali mengepal seakan sedang menonton pertandingan bola. “Lihat, Kar. Kalau negara sudah enggak takut meliput beginian, artinya negara kita memang sudah kacau! Dan—lumrah!” Sekar tidak menggubris satupun ucapan Zafran, bahkan anak rambut yang menempel di dahinyapun tak dihirau. Jika sudah menulis puisi, baginya, hanya surga di sekelilingnya. Zafran menatap Sekar, sembari menyaringkan volume lewat remot. “Minggu depan, Gue ikut aksi.” Ujarnya pelan, melebur dalam suara televisi yang luar biasa nyaring. Sengaja. Karena Zafran tahu, jika sahabatnya itu dengar, maka jawabannya... “...
Aku adalah api yang tak pernah membutuhkan air. Tak padam dan tak surut, aku—tetaplah aku.