“KIAMAT”
Written by Sekar Wangi Indonesia
Ada sekat tebal di antara ruang puisi dan nyaring
televisi. Seorang perempuan sedang fokus menulis puisi, sedangkan laki-laki
disebelahnya sibuk menatap televisi. Berita terkait bobroknya negara, kasus
korupsi, kebijakan yang dianggap “nyeleneh” saling berebutan untuk muncul. Hal itu menggelitik telinga Zafran, bahkan membuat
tangannya berkali-kali mengepal seakan sedang menonton pertandingan bola.
“Lihat, Kar. Kalau
negara sudah enggak takut meliput beginian, artinya negara kita memang sudah
kacau! Dan—lumrah!”
Sekar tidak
menggubris satupun ucapan Zafran, bahkan anak rambut yang menempel di
dahinyapun tak dihirau. Jika sudah menulis puisi, baginya, hanya surga di
sekelilingnya.
Zafran menatap Sekar,
sembari menyaringkan volume lewat remot.
“Minggu depan, Gue ikut aksi.” Ujarnya pelan, melebur
dalam suara televisi yang luar biasa nyaring. Sengaja. Karena Zafran tahu, jika
sahabatnya itu dengar, maka jawabannya...
“Enggak.” Singkat Sekar. Kepalanya menoleh, mata
tajamnya menjerumus ke sekujur badan Zafran. Sudah setengah jam Zafran mengoceh soal politik di ruang
tamu, dan baru kalimat itu yang berhasil ter-gubris. Sejatinya, begitulah
perempuan. Tidak tuli, mereka hanya membagi perhatian.
“Benar. Gak ada
gunanya bicara sama sastrawan yang tidak pernah membuka sedikitpun pikirannya.”
Itulah kalimat terakhir Zafran di rumah Sekar, sebelum wujudnya luput dari mata
selama 3 hari. Saling menjauhkan diri, memutus rantai persahabatan yang usianya
6 tahun. Namun, ada beberapa hukum gravitasi yang tidak bisa mereka lawan hanya
dengan misuh. Seberapa jauhpun raga mereka bergerak, tetap saja bertemu.
“Rasa-rasanya baru
kemarin...” Alunan lagu karya Ardhito Pramono mengisi lenggang yang kompong.
Sekar tak sengaja menemui Zafran yang tengah mengantri di kafe. Tiba-tiba
ucapan Zafran 4 hari yang lalu kembali bergema di kepala Sekar. Namun
itu Zafran, bagi Sekar, Zafran adalah...
“Aku mau kita
sahabatan lagi. Aneh rasanya lawan arah denganmu, Zaf...” Lirih Sekar, membuka
duluan percakapan. Lenggang. Zafran, karena badan gagahnya, Ia jadi sungkan
mengusap air matanya yang timbul dengan usil. Teman-temannya menanti
dibelakang. Namun perempuan berjudul Sekar-lah yang sedang dihadapannya. Dengan
rambut panjang, hitam legam dan lesung pipi yang mustahil ditolak. Sekar tidak
pernah bilang Zafran itu gagah, baginya Zafran adalah manusia dengan hati
paling rapuh di muka bumi.
“Geli rasanya pakai bahasa “Aku, Kamu” tetapi Aku
minta maaf, Sekar. Sungguh. Hamba menyesali perkataan yang tidak ada bobotnya
itu.” Zafran memeluk bahu perempuan itu erat-erat. Justru dirasanya getaran dari bahu yang didekapnya itu.
Bukan karena menangis, namun tertawa. Pipi Sekar menggelembung, mendengar
kalimat sok puitis itu membuncah dari mulut seorang Zafran Hadiq.
“Rasa-rasanya
baru.... Kemarin.” Akhir dari lagu itu menjelma menjadi sebuah bel. Mencetus
perasaan baru yang telah 6 tahun disangkal...
***
Rembulan yang
romantis kian pergi, berganti dengan terik matahari siang. Dan kacaunya degup
jantung perempuan di hari itu. Yang dahinya memanas melebihi suhu Jakarta,
ribut hatinya melebihi aksi massa di Bundaran HI. Yang disayangkan, kakinya
hanya mampu berbaring di kasur. Bukan mengejar lelaki yang dicintainya.
“Sudah 3 hari Zafran
gak bisa dihubungi, Bu... Ternyata benar, dia ikut demo.”
Ibu membawakan
secangkir teh panas ke kamar. Seraya menyimak ocehan putri semata-wayangnya,
membangunkan bahu Sekar yang melemah.
“Loh, bukannya kalian
sudah baikan? Minggu lalu? Ibu hajar, kalau anak itu ikut-ikutan aksi!”
Sekar terdiam. Zafran
memang ikut demo, sehari yang lalu Ia bertanya kepada teman-teman
organisasinya. Betapa pahit kaum lelaki, pikirnya. Satu minggu mereka habiskan
berdua, terasa seperti satu purnama. Tak mengetahui bahwasan rupanya Zafran
sedang menyembunyikkan batu kerikil.
“Bu, kalau Tanah Air
memang benar hancurnya. Ayo pergi, ke Jerman. Kemanapun.”
Tidak lama setelah
kalimat itu keluar dari mulut Sekar, terdengar ledakan besar dari luar jendela.
Salah seorang mahasiswa berlari, menyisiri ke perkampungan warga dan ditembak
aparat. Ibu berlari keluar begitu riuh resah warga mulai terdengar. Aparat itu
dikabarkan langsung hilang, begitu juga dengan mahasiswa-nya.
“Rambutnya gondrong, cungkring... Segini, kira-kira.
Almet biru.... Gak tau saya, tetapi kepalanya bocor ditembak...!” Ucap seorang
saksi, ibu-ibu berdaster yang heboh bercerita. Ada sedikit perasaan lega yang
menyalip pikiran Ibunda Sekar, karena bocah itu jelas bukan Zafran. Wanita
bondol paruh baya itu buru-buru menghampiri kamar Sekar, demi menyangkal
kegelisahan putrinya yang meradang.
“Dek...” Kamarnya
nihil, Sekar menghilang. Hanya ada selimut tergantung di ujung kasur. Rupanya
perempuan muda itu sedang termenung di ruang tamu. Mencengkeram remot,
mengganti-ganti saluran. Untuk pertama kalinya, Sekar menjadi orang yang paling
khawatir dan getir soal berita.
“Bukan Zafran,
sayang.”
“Setan! Berita
demo-nya tidak disiarkan di TV.” Teriak frustasi. Urat-urat di kepalanya mulai
mengamuk, di lain sisi badan Sekar mulai panas. Dan yang bisa dilakukan seorang
Ibu hanya satu; memeluk dan mengecup dahi anaknya. Tak menahu bahwa seminggu
kemudian semua terlampaui begitu saja. Sudah tidak ada Zafran di pikiran Sekar.
Begitupun Zafran (Yang Entah Dimana)
Walau begitu, sejak
hari besar tersebut, negeri ini tidak pernah kembali tenang. Ribuan koran
tentang orang hilang mulai bertebaran. Tiang-tiang listrik tidak pernah sepi,
penuh dengan wajah oknum hilang. Sekar menemukan nama Zafran Shadiq disana. Ia
ingin marah namun hatinya lebih dulu hancur berlebur-lebur. Dendamnya kepada
aparat dan pemerintah tertumpuk bagaikan sampah di bantar gerbang.
Bertahun-tahun melaju dengan kutukan yang tidak berani disumpahnya, maka
dituanglah pada tulisan-tulisan berisi cemooh yang dibalut banyak umpamaan
manis. Karena Ia tahu, Ia bukanlah Zafran yang frontal—bahkan menidurkan nyawa
dan harga dirinya demi ribuan rakyat. Setelah sukses, Sekar menepati janjinya
untuk pergi dari Tanah Air. Ia membawa keluarga dan seisinya, kecuali satu;
Dirinya.
“Ibu, bapak duluan
saja. Aku ingin menyelesaikan karirku dulu disini.”
Ibu mendekat.
“Berkarir, atau
mencari...”
“Sudah selesai dengan
itu, Ibu.” Ujar Sekar penuh tentram. Entah apa yang diketahuinya, atau yang
berhasil dilalui oleh perempuan itu. Sampai Ia merelakan laki-laki yang
dicintainya seumur hidup.
5 tahun merangkak
bagai siput yang tersangkut di atas lem. Melebihi kata lambat.
Namun berhasil membuat Sekar mendapatkan pendamping—sekaligus suami yang baik.
Vando namanya. Suatu malam yang rapuh, mereka berkeliling kota, menjelma
peradaban pejabat yang baik-baik saja. Menonton kerlap-kerlip lampu Jakarta,
walau sudah tidak ada lagi pedagang kaki lima. Tidak ada pula ojek online
memangkal hingga larut malam. Entah kemana orang-orang itu. Andaikan yang
disampingnya kini adalah Zafran, maka sudah tercecar ganas emosinya. Membahas kemana
perginya orang-orang kecil yang lemah dan takut. Penuh kritik yang tidak bisa
dikurung dikepala. Namun realitanya, Vano adalah laki-laki ber-duit yang tennag
hidupnya. Hanya suami istri itu yang masih sering menjelajah restoran, tidur di
hotel bintang lima, karaoke tengah malam. Nasib keuangan mereka tidak cacat.
“Lihat, sayang. Restoran itu. Namanya Kopi Wangi
Indonesia. Kayak namamu.” Vano terbelalak, dengan suara tinggi Ia berkata, khas
orang Padang ketika membuat lelucon, “Mau kesana?”
Namun Sekar
menggeleng, merespons hanya dengan tawa. Lalu menggosok perutnya yang malang.
“Aku butuh makanan
berat, sayang. Ke Senopati saja.”
Vano mengangguk. Kondisi Jakarta yang mereka lihat hari itu, rupanya tidak lebih baik dari 3 tahun mendatang. Semua orang yang ber-harta sudah meninggalkan tanah asalnya, baikpun warga sipil yang menganggap dirinya cukup. Kabarnya, pada 18 Agustus, negara ini akan meledak dengan dahsyatnya. Tentu berita itu bukan semata mimpi buruk yang dialami saat demam, atau bagian provokasi dari lampiran hitam. Berita itu diakui. Tidak ada lagi pejabat yang menetap di tanahnya sendiri, tanah Ia berdosa. Hutang negara melonjak, mengurung negara dalam satu kesepakatan pahit; Ledakkan. Kemusnahan. Diseluruh penjuru provinsi, tidak hanya kota Jakarta saja. Pada 17 Agustus pukul 22.00, suasana Jakarta sudah lebih dulu mati. Hanya ada satu cafe yang buka; Kopi Wangi Indonesia. Dan satu perempuan yang mendatangi dengan langkah pelan, teratur. Terlihat elegan dari atas sampai bawah, mengenakan jaket wol harga milyaran, di lehernya terdapat syal putih tipis. Menggeret koper merah besar. Bunyi heels-nya mengetuk lantai, lebih dulu terdengar sebelum sensor bel berbunyi. Perempuan itu Ialah Sekar Wangi Indonesia. Kali ini Ia sebatang kara. Suaminya sudah satu bulan dinas di Jepang.
“Halo, ada orang?” Ucap Sekar, memeriksa sekeliling. Hanya ada dirinya di cafe dengan cahaya remang-remang itu, serba keemasan.
“Ya, sebentar!” Sahut seseorang. Laki-laki dengan
celemek putih berlari ke arah meja kasir. Tubuhnya tinggi—tumbuh lebih kekar.
Memakai kacamata bulat, yang anehnya—tidak mengubah sedikitpun pesonanya. Walau
rasa pangling itu pasti tertampang di pantulan mata Sekar. Beliau-lah Zafran
Shadiq.
“Sekar Wangi...” Jiwa Zafran terguncang. Melahap
tatapan perempuan itu setelah 7 tahun lamanya terpisah. Penantian yang
diam-diam ditunggunya.
“Caramel Machiato nya dua, sekaligus Anda, Pak Zafran
Shadiq. Saya butuh bicara.”
Ketus perempuan itu, langsung mengeluarkan kartu bayarnya.
“Sekar, kamu
ngapain...? Sebentar lagi negara ini kiamat, Sekar!” Zafran menepis kasar kartu
emas itu. Rambutnya sudah gondrong, matanya menyipit, kulitnya sudah lebih
gelap. Namun sifat “sok keras” itu yang masih menempel di sosok Zafran Shadiq.
Walau begitu, Zafran tetap membuatkan perempuan itu kopi. Sekar sengaja duduk
di table depan barista. Selain menghindari pemandangan Jakarta, Ia merasa perlu
menatap wajah laki-laki itu dengan penuh gusar.
“Tidak. Kamu, Sekar,
sudah seharusnya di bandara. Jam berapa pesawatmu?” Zafran melirik bawaan
Sekar, mendapati koper merah yang ditaruh disamping kaki.
“Setengah jam lagi.”
Singkat Sekar. Perempuan nekat itu justru melepas syal dan jaket, seolah
waktunya masih longgar.
“Lo sendiri? Mau
bunuh diri, disini?”
“Aku lahir disini,
Aku berjuang disini. Aku pula harus mati disini.” Zafran menuangkan kopi panas di gelas Sekar, lalu di
gelasnya. Pernyataan-nya masih konsisten sejak dahulu. Sekar menyeringai tipis.
Mereka kini duduk tenang, bersampingan.
“Bukannya, aku pesan caramel machiato?”
“3 tahun sejak kafe
ini dibuka, dan kamu baru datang sekarang?” Sekonyong-konyong Zafran memukul
meja. Matanya
berair. Bibirnya mulai keriting. Air mata itu sudah ditahannya sesaat perempuan
itu kembali muncul didepannya. Namun gagal.
“Aku punya suami, Zafran. Dan... Waktu itu pernah
melihatmu disini, rasanya...” balas Sekar cepat, mendadak tenggorokannya seolah
tersumbat sesuatu.
“Kamu tahu... Aku
benci banget sama kamu waktu itu. Pas ada berita orang hilang, Aku berdoa
supaya kamu tetap aman... Dan, yah, setidaknya hidup. Tapi melihatmu beneran
hidup, membuat kopi disini seolah Aku tiada. Rasanya... Rasanya Aku justru
menginginkanmu mati saja...” Sekar menjelaskan, setiap kata yang diucapnya
seperti dosa yang mengganjal dan berat. Sangat rapuh diucap dan patah-patah.
Karena demikianlah isi hatinya.
“Maafkan Aku, Sekar.”
Nyatanya hanya itu yang terucap di mulut lelaki, ketika perempuan susah payah
menerjemahkan hatinya. Sekar mengangguk, tersenyum lebar. Ia memang tidak
berharap apapun lagi. Toh ini akan menjadi akhir pertemuan mereka. Zafran
menatap ubin, meneguk secangkir kopi di ujung hayatnya.
“Percayalah, aku
nggak pernah ada di demo itu, Sekar. Aku mematuhi keinginanmu.” Zafran kembali
bicara. Kali ini, ditatapnya sahabat lamanya itu dengan lebih khidmat dan
tulus. Tidak kasar bak sebelumnya.
“Jika katamu, demo
itu terlalu anarkis dan berani. Maka Aku lakukan yang tidak anarkis. Dengan
pola, dengan perlahan... Meski hukumannya adalah rasa bencimu itu.” Sambung
Zafran, menarik napas dalam-dalam.
“Apa yang kau
lakukan?” Tanya Sekar tak sabar sembari mengerutkan dahinya yang mulus dan
bersinar.
“Aku jadi intel.
Sengaja kubuat skenario, seakan Aku berada di demo itu dan hilang. Padahal ada
banyak hal lain, yang...”
“Temanmu, Aryo,
bilang kamu ikut demo! Dan kertas, kertas selebaran nama itu... Jangan bohong.”
Sekar terus-terusan menyela, kesulitan memberi Zafran ruang untuk bicara. Di kepalanya
terdapat sensasi meledak, perasaan 7 tahun silam itu kembali menyerang dirinya.
Tubuhnya gemetaran, mendadak serangan panik.
“Sekar.” Zafran beranjak, langsung menyodorkan segelas air putih.
Mata Zafran semakin memerah, terhujam tangisan. Rasa bersalah telah tersuntik
di seluruh dagingnya. Sementara suasana diluar sana semakin mencekam,
jam sudah menunjukkan pukul setengah 12. Restoran itu menggunakan separuh tempered-glass, dan dari
pemandangan luar, dua pemuda itu terlihat menyedihkan. Nuansa
lampu kekuningan membuat kafe itu seolah masih hidup dan romantis. Disaat kondisi Sekar mulai mereda, Zafran mengeluarkan
Kartu Tanda Penduduk dari sakunya. Menaruhnya di meja, membiarkan perempuan
dihadapannya itu menelaah. Disitu tertera nama “Ali Fahreza” dan bukan nama
“Zafran Shadiq”. Kelahiran dan segala perniknya pun asing di mata Sekar.
“Bahkan teman-temanku
masih berjuang mencari “Zafran Shadiq”. Yah, yang mereka tahu, Aku ada dalam
demo itu, lalu... Duar, lalapan pertama, deh!” Lelaki itu tertawa. Kontras
dengan wajah Sekar yang menganggap kian bukan lelucon yang lucu.
“Tiba di destinasi
terakhir. Menjadi Ali. Namun Ali bukanlah misi. Aku sudah selesai dengan
pekerjaan luar-biasaku ini, dan disinilah Aku menghabiskan sisa gajiku. Owner
Kopi Wangi Indonesia!” Timpal Zafran, menatap keadaan luar yang semakin larut,
semakin nihilnya secerca harapan. Bagaimana jika bom tidak jadi diledakkan?
Pertanyaan itu kompak mengisi kepala duo sejoli. Meskipun masalah pribadi mereka yang rumit baru
terselesaikan.
“Menjadi intel
berarti mencuci otak orang sekelilingmu, Kar. Dan yang paling sulit adalah
kabar nikahmu.”
“Zafran, Aku nggak
mau dengar itu.”
Bunyi-bunyi seperti
gemericik hujan mulai terdengar, namun bukan datang dari langit. Melainkan dari
bawah. Dari tanah. Kaki mereka bergetar, tidakpun sedetik cukup untuk
berkata-kata. Kiamat sudah didepan mata. Kiamat negara. Para pengemis,
gelandangan dan orang-orang tak berpunya hanya bisa memejamkan mata dan
menerima nasib di tangan yang lusuh. Di telapak yang belum sempat menyentuh
hangatnya rumah. Sementara dua pemuda dalam kafe hangat, memutuskan untuk
merasakan kematian bersama-sama. Dengan ending, dimana
mereka saling tahu, bahwasannya cinta tidak mudah ditepis begitu mudahnya. Cinta
telah mengalir di darah mereka. Sekar tidak pernah memesan tiket pesawat, koper
itu hanya berisi angin dan uang. Sementara
Zafran, tetap mengabdi pada negeri sampai di titik penghabisannya. Mereka
berdua telah sengsara, karena tidak bertemu.1Seperti kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya debu, mereka berdua jelas
sengsara. Tubuh mereka kini debu. Tak dilayat. Biarlah, dimanapun tertulis sisa
sejarah negeri ini, maka disitulah kuburan untuk mereka.
1:
Potongan puisi “AKU“ Karya Chairil Anwar.
TAMAT


Komentar
Posting Komentar