Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku
Mengapa sendiripun dibenci?
Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan
'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati
Ketika puisi bukan untuk menyanjung
Namun untuk membebaskan hati
Bicara soal hati,
Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“
Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi
Ini puisi bak intuisi!
Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah
Aku berdarah
Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah
Komentar
Posting Komentar