Merah, Putih Sekar Wangi Indonesia Tubuhku berdiri di sela-sela lampu yang redup Di antara ceceran mayat yang berjatuhan bagaikan buah segar di musim buah, Dengan getahnya yang belum kering, merah merona, merah basah Tubuhku tersisa di antara maut; saudara-saudaraku, teman-temanku, kekasihku yang mati. Juga jasad-jasad lain yang kasat mata, hilang ditelan hari dan tak kembali ke tanah Dan disinilah Aku berdiri, berusaha kokoh setelah kehilangan separuh nyawa; Kepada mereka yang telah kutitipkan jiwanya—dan berakhir tewas Benderaku terbuat dari darah orang tak bersalah, darah manusia-manusia suci yang tertembak aparat Dan putihnya dari tulang anak-anak polos yang ikut tertembak Lalu mengapa Aku masih tersisa? Jika negeri dan orang-orang tercintaku sudah lenyap mereka rampas Apa lagi yang kupunya jika masa depanpun seakan lari dari genggaman tangan kecilku?
Aku adalah api yang tak pernah membutuhkan air. Tak padam dan tak surut, aku—tetaplah aku.