Langsung ke konten utama

Merah, Putih

Merah, Putih

Sekar Wangi Indonesia 


Tubuhku berdiri di sela-sela lampu yang redup

Di antara ceceran mayat yang berjatuhan bagaikan buah segar di musim buah,

Dengan getahnya yang belum kering, merah merona, merah basah


Tubuhku tersisa di antara maut; saudara-saudaraku, teman-temanku, kekasihku yang mati.

Juga jasad-jasad lain yang kasat mata, hilang ditelan hari dan tak kembali ke tanah

Dan disinilah Aku berdiri, berusaha kokoh setelah kehilangan separuh nyawa; Kepada mereka yang telah kutitipkan jiwanya—dan berakhir tewas

Benderaku terbuat dari darah orang tak bersalah, darah manusia-manusia suci yang tertembak aparat

Dan putihnya dari tulang anak-anak polos yang ikut tertembak

Lalu mengapa Aku masih tersisa? Jika negeri dan orang-orang tercintaku sudah lenyap mereka rampas

Apa lagi yang kupunya jika masa depanpun seakan lari dari genggaman tangan kecilku?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah