Langsung ke konten utama

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut

Aku tak mencari maut di laut

Biarlah kaki ini yang berjalan mencari

Tak perlu berlari

Tak perlu dalam untuk berselam

Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu

 

Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut

Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali

Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore

Menangkap tanganku di malam hari

Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci

 

Aku mulai berkelana

Dan berkelana,

Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah