Lilin dan Merahnya Sekar Wangi Indonesia Ia dibutuhkan dan diharapkan Namun Ia tak boleh meminta banyak, Karena Ia hanyalah sebatas lilin Tidak, Ia tidak ingin redup Namun koyakkan angin yang menginginkannya Salahkah jika Ia berharap dengan semesta? Salahkan jika Ia berharap angin tidak berhembus terlalu kencang padanya? Ia hanyalah lilin yang kaku digerakkan angin Mati dan hidup berkali-kali Namun lilin tetaplah lilin, Nyawanya hanya sebatas itu Di lain hal, merahnya selalu dibenci “Bukankah kau menyukai warna merah, Nona?” Rajuknya manja pada manusia yang mengagumi merah Terkecuali merah yang dimilikinya Merah yang mengancam hidup, Merah yang selalu merepotkan, Dan di hal itu, nyawanya tidak pernah diinginkan Ia tak boleh hidup Tanpa sadar manusialah yang selalu memulainya Ia hanya takdir yang tak sengaja lahir Ialah bagian sederhana dari alam yang selalu dianggap rumit
Aku adalah api yang tak pernah membutuhkan air. Tak padam dan tak surut, aku—tetaplah aku.