Langsung ke konten utama

Denyut Kehidupan

Denyut Kehidupan

Angin sore memapah sepasang mataku ke setiap sudut kota

Kulirik peluh seorang badut jalanan yang suah berpadu dengan larutan air mata

Teguh tersenyum lamun raga tak lagi kokoh

Teguh bersamba, mempersolek setiap jengkal metropolis 


Memikul denyutan harapan selaku tulang punggung keluarga

Pula anak-anak yang sepatutnya giat menodong ilmu

Jemari mereka mesti tersisip di antara ukulele

Menatap sayu tingkap kedai pinggir kota

Tabah merindukan racik masakan sang Ibunda


Kini mereka hanya terduduk pilu di pagar stasiun yang semakin merapat

Menyeret kaleng bekas yang nihil isinya

Berjerih payah tuk tetap hidup di kecamuk pandemi

‘’Enak, ya... Jadi pejabat, diperlakukan seperti raja. Mereka mana lihat orang susah seperti kita,‘’ Lirih salah satu manusia perak yang tengah memandangi gedung-gedung tinggi para penguasa


Terselip awan kelabu di antara mereka dan kesenyapan jalanan

Tiada lagi aroma masakan dari kedai

Tiada lagi hiruk-pikuk pedagang kaki lima

Tiada pula recehan yang mengisi kaleng mereka

Tak ada yang mendekap anak-anak itu selain hawa dingin di malam hari

Bergulat dengan rasa lapar,

Mencoba berdamai dengan keadilan

yang semakin membisu



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah