Langsung ke konten utama

Adam, Hawa dan Dua Ekor Kucing

Adam, Hawa dan Dua Ekor Kucing

Puisi dialog karya Sekar Wangi Indonesia


Sebuah percakapan di meja makan. Empat potong mata yang saling beradu rayu.

"Sayang, sebenarnya apa makna hidup ini jika akhirnya kita kembali ke tanah?"

"Maaf, Aku tambahkan. Tanah, dan Tuhan." Sergah Adam.

"Sayang, bagaimana jika sebenarnya Tuhan itu tidak ada?"

Adam dan hawa bersilat lidah. Hingga muncul dua ekor kucing, mengintai di jendela.

"Sayang, bagaimana jika hidup manusia itu sejatinya hanya seperti kucing?"

"Hidup, mencari makan (atau mencuri), kawin lari, mati, lalu tidak masuk neraka ataupun surga."

Sejenak sesaat, mulut dan pikiran Adam termangu bisu.

"Adam, kita tidak tahu aturan hidup yang sebenarnya, bagaimana jika aslinya kita sesederhana mereka?"

Dua ekor kucing pergi setelah lama bermesraan di jendela. Manusia tidak akan berhenti bertanya sampai mereka menyaksikan kenyataan, itulah mengapa orang yang mati tidak bisa menjawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah