Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Sejak Sajak Menginjak

Sejak Sajak Menginjak Sekar Wangi Indonesia Ini bukan cerita tentang petani dan butiran padi Yang ditindas oleh deru mesin tak berkepala Yang kalah oleh gaji “sapi” yang tidur Sementara diluar sana, ribuan rumah menantikan beras Anak-anak berkulit gelap kehilangan lahan untuk menerbangkan layangan Sebab ulah Tuan Mesin! Nyaring dan menyaring impian manusia-manusia kecil Ini bukan cerita tentang petani dan butiran padi, Yang remuk diamuk negerinya sendiri Naasnya, Pahlawan kita kehilangan lahan Sebab kelakuan Tuan Mesin Sejak sajak menginjak, Sanak saudara kita yang kehilangan jejak

Mengapa Tidak? Berbahagialah!

Mengapa tidak? Berbahagialah ! Sekar Wangi Indonesia Jika semua orang menginginkan bahagia, Maka dunia ini hanya diisi keegoisan Ah, tetapi, siapa yang tidak ingin bahagia? Yang ada hanyalah orang yang menerima kekalahan, memilih untuk hanya menjadi bayangan Tuhan tidak menciptakan dunia ini untuk bernasib yang sama, maka... Berbahagialah! Buka tiraimu lebar-lebar, biarkan senyum itu tersasar hingga tepi pesiar Kulit diwajahmu tidak dibuat untuk hanya keriput Usia tidak dibuat hanya untuk dimakan waktu Semua orang adalah penyair yang menyulam syairnya sendiri, Berbahagialah!

Bicara Soal Waktu..,

Bicara soal waktu, Sekar Wangi Indonesia Yang pernah tak ada harganya Yang pernah mengabdi di bingkai dan bangkai Namun, pada musim dingin hari ini Seorang gadis ber-syal abu menatap sebuah jam dengan mata penuh isi Alangkah lengketnya antara detakkan jantung dan jarum jam Seolah nafas mereka adalah satu Tik! Tak! Tik! Tak! “Mengapa Aku masih belum ditelan waktu?” Gadis itu berbicara pada benda mati Pada jarum jam yang rasanya berlarian Meninggalkan Si gadis di kursi roda sendirian Pada angin, dibisiknya keinginan, sepelan mungkin; Ia ingin ramai, Ia ingin pesta Jiwanya penuh lubang, penuh rayap Tak pernah ada yang benar-benar mengisi Sebab sepi tak pernah menepi Tak pernah ada yang benar-benar menginginkan ramai selain jiwa yang penuh sepi, Jangan biarkan derik jam berceloteh

Di Kamar Ini

Di Kamar Ini Sekar Wangi Indonesia Gelas-gelas berceceran, helaian rambut jatuh dengan liarnya, kuncir rambut kami terselip diantara ruang yang bingar Begitupun dengan masalah, yang langsung terselip lalu raib Ketika kalian datang Yang dengan kurang ajar mengusik sunyiku Memakai kasurku, riasan dan membawa alih pelan beban Tiga perempuan abadi dalam Juni-ku Qumaira, Ayu, Almira, dan segelintir ribut yang pernah meneduh di kamar ini Wajah kita penuh rona Harum kita menyatu Di Kamar, di bebantalan, dan di ruangan kecil yang menampung euphoria; rasa bahagia sesaat Hingga saat terpecah belah, wangi kita, selalu terdata Di ruangan ini, di Kamar Nesia, Bulan Juni, Tahun 2025.

Menangis

Menangis Sekar Wangi Indonesia Seutas benang terpaut di tulang dada, Lalu ditarik seperti anakan panah Sulit dan berat  Sampai meneteslah air mata Yang timbul dari perih dada Membocor hingga ke ujung mata, pipi, lalu... Asin!