Bicara soal waktu,
Sekar Wangi Indonesia
Yang pernah tak ada harganya
Yang pernah mengabdi di bingkai dan bangkai
Namun, pada musim dingin hari ini
Seorang gadis ber-syal abu menatap sebuah jam dengan mata penuh isi
Alangkah lengketnya antara detakkan jantung dan jarum jam
Seolah nafas mereka adalah satu
Tik! Tak! Tik! Tak!
Yang pernah mengabdi di bingkai dan bangkai
Namun, pada musim dingin hari ini
Seorang gadis ber-syal abu menatap sebuah jam dengan mata penuh isi
Alangkah lengketnya antara detakkan jantung dan jarum jam
Seolah nafas mereka adalah satu
Tik! Tak! Tik! Tak!
“Mengapa Aku masih belum ditelan waktu?” Gadis itu berbicara pada benda mati
Pada jarum jam yang rasanya berlarian
Meninggalkan Si gadis di kursi roda sendirian
Pada angin, dibisiknya keinginan, sepelan mungkin; Ia ingin ramai, Ia ingin pesta
Jiwanya penuh lubang, penuh rayap
Tak pernah ada yang benar-benar mengisi
Sebab sepi tak pernah menepi
Pada jarum jam yang rasanya berlarian
Meninggalkan Si gadis di kursi roda sendirian
Pada angin, dibisiknya keinginan, sepelan mungkin; Ia ingin ramai, Ia ingin pesta
Jiwanya penuh lubang, penuh rayap
Tak pernah ada yang benar-benar mengisi
Sebab sepi tak pernah menepi
Tak pernah ada yang benar-benar menginginkan ramai selain jiwa yang penuh sepi,
Jangan biarkan derik jam berceloteh
Komentar
Posting Komentar