Langsung ke konten utama

Gadis kecil #1

Gadis Kecil #1 (Terjebak badai)

Sekar Wangi Indonesia 

Gadis kecil terjebak badai,
Melihat ditangannya hanya ada satu payung kecil bercorak merah muda
Gadis kecil terus memaki angin ribut dengan hati ributnya,
Karena sepayung merah muda takkan melindungi dari jahatnya badai

“Bagaimana caranya aku bisa pulang?” Sebutnya dalam hati, tangan kecilnya mulai berkeriput, tak ada jaket yang menutupi
Namun halang rintang menjadi halal dimatanya,
ketika membayangkan sosok rumah yang hangat menanti kakinya

Gadis kecil akhirnya menerjang badai dengan payungnya,
Tak menahu bahwa badai sedang mencari nyawa tuk direnggut

Tetapi, sesungguhnya badai tak pernah berlangsung lama
Andai saja gadis kecil bisa menunggunya tuk sebentar saja, di tempat teduh yang Ia huni tadi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah