Langsung ke konten utama

Menjenguk Kenangan Dengan Ayah

Menjenguk Kenangan dengan Ayah

Sekar Wangi Indonesia


Aku akan menjadi gadis paling lemah,

jika tempat persembunyianku adalah punggungmu, Ayah

Kulihat hujan membasahi pipimu, dengan licik turut menyembunyikkan air matamu yang turun

Demi menanti senyumku yang mahal,

Merelakan gadismu ini tumbuh sehat


Aku ingin berdiri di sampingmu,

Dan menangis kala anak kecil yang kau mainkan setiap helai rambutnya

Sebelum setiap helainya menjadi abu

Sebelum Aku tumbuh sama teguhnya denganmu

Punggung kuat itu milik Ayah,

Selalu ada usaha di setiap mauku

Walau dengan tangis kupinta, dengan berontak ku bergejolak

Ayah tetaplah Ayah,

Ruang rindu yang selalu kurindukan

Ruang waktu yang selalu kuandai-andai


Anehnya, diri kecilku selalu berandai apa itu ”Cinta” jika nyatanya sosok itu tak pernah luput dari sisiku,

Ia, yang merawat kotorku dan menuntunku pelan kepada segala hal asing di dunia


Ayah,

Aku disini telah bermandi rela

Berdiri sendiri tanpamu berjaga

Menjenguk ribuan memori yang tak lagi menjebakku

Sejauh apapun aku ’kan terbang lalu raib ditelan tempat,

Aku akan tetap kembali jika kau memanggilku lagi,

Untuk kembali menjadi gadis kecilmu






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah