Langsung ke konten utama

Bayangan Dan Pantulannya

“Bayangan Dan Pantulannya”

Sekar Wangi Indonesia

Semoga engkau tidak keberatan,

membawa raga kecil yang selalu berada di balik punggungmu

Ibu,

Bayanganmu elok sekali

Gadismu ini bersedia menjelma menjadi pantulanmu

Dan untuk seterusnya sampai akhir,


Terimakasih sudah membuat bayangan yang selalu menjadi arah kemana ku tuju,

Terimakasih sudah menjadi terang untuk segala gelapku


Dan, Bu, anak kecil yang kau dekap saat itu masih sama jiwanya

Sudikah Ia berharap kau dekap lagi? Sembari mengatakan sesuatu yang menghangatkan, seperti, “Selamanya kau akan menjadi putriku tersayang.”

Putri tersayangmu itu sudah melintasi banyak ruang waktu, Bu

Ia selalu ingin menjadi sepertimu

Ia akan selalu menatapmu dari layar dan kejauhanpun

Dan memelukmu ketika dekat, lalu

Berkata, “Aku bangga menjadi gadismu, Bu.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkelana

Takkan ada laut yang kan kuselam, karena Aku bukan pelaut Aku tak mencari maut di laut Biarlah kaki ini yang berjalan mencari Tak perlu berlari Tak perlu dalam untuk berselam Nyawaku menggantung di mana saja, tak usah terburu   Hidup tak jarang menaruhku di gelombang maut Lalu kucari arti bukit—jika itu bisa menyelamatkanku kembali Kemudian datang lelaki ber-helm bulat yang pernah kutertawai sepanjang sore Menangkap tanganku di malam hari Dengan senyum sengak yang seharusnya kubenci   Aku mulai berkelana Dan berkelana, Sampai kitapun hilang dimakan maut (Berpisah )

Sesal; Mendengar Karina

Karina tidak pernah didengar, Bukan karena suaranya kecil, Namun karena tak ada telinga yang ingin mendekat Tulisan Karina tidak pernah dibaca, Bukan karena tulisannya jelek Melainkan hanya dinilai sebagai coretan semata Sesaat-saat keluarga Karina ingin dimengerti, Karina tak pernah menggeleng Telinganya berfungsi, hatinya utuh Karina mampu memberi apa yang tak pernah didapatnya Rambutnya tak pernah kusut, wajahnya takkan keriput Namun malang, tak ada yang ingin membelah hatinya Karina mati tanpa meludahkan keluh Yang pada hari kematiannya, semua orang ingin mendengar Mendengar nyawa yang sudah habis  Seorang penyair menyumpah, “Terlambat, eny ahlah keparat!”

Puisi Tanpa Arah

Senyap sendu menjelma irama jazz di telingaku Mengapa sendiripun dibenci? Seperti puisi ini, yang jatuh jauh dari aturan 'pun puisi-puisi Chairil Anwar yang kupuja sampai mati Ketika puisi bukan untuk menyanjung Namun untuk membebaskan hati Bicara soal hati, Firasatku selalu menggoreskan “Si 6 Huruf“ Setelahnya, entahlah, mungkin untuk bercinta (dalam arti suci)—Aku takkan pernah lagi Ini puisi bak intuisi! Aku bukan penyair berjubah merah yang dipuja-puja bagai sejarah Aku berdarah Dan, sepertinya; puisi ini tak punya arah